Farid Pratama Putra

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Belajar dari Nun Mati

Bismillahirrohmanirrohim.. Assalamu’alaikum wrwb.

Setelah lama absen dari dunia tulis menulis, sekarang saya ingin mencoba kembali untuk mengaktifkan lagi wordpress saya yang sudah bersarang laba-laba ini. Tiada maksud untuk menggurui karena baik saya maupun pembaca sama-sama sedang berusaha untuk menjadi lebih baik.

Kali ini saya ingin mengangkat tulisan saya di salah satu media sosial yang salah miliki. Tulisan tersebut saya tulis sendiri. Ceritanya malam ini lagi coba-coba buka kiriman lama eh ketemu sama status yang itu. Dan kebetulan otak lagi enjoy dan encer untuk mikir.

ya, kira-kira seperti itulah yang saya tulis pada waktu itu. Udah lumayan lama juga. Tapi tak mengapa, meskipun sudah lama, saya akan coba tambahkan penjelasan untuk masing-masingnya. Kalau dipikir-pikir sekalian kita belajar lagi tentang ILMU TAJWID.

Hukum “nun mati” mewakili banyak hal dalam kehidupan. Ternyata ini merupakan BUKTI dari penjelasan mengenai surah Ali Imron 190-191 bahwa TIDAK ADA SESUATUPUN YANG ALLAH CIPTAKAN ITU SIFATNYA SIA-SIA. Dan inilah cara pandang saya dalam memahami alasan mengapa Allah menciptakan hukum bacaan yang sedemikian rupa.

Kita mulai…
1. Izhar (jelas) yang hurufnya hanya sedikit (6). Masih ingat kan hurufnya apa aja? ه ,ا ,غ ,ح ,خ ,ع dan apabila di dalam Al Qur’an kita menjumpai nun mati / tanwin bertemu dengan huruf-huruf ini, maka kita membacanya Jelas dan Singkat.

Izhar menandakan bahwa dalam kehidupan ini hanya ada sedikit hal yang sifatnya jelas/pasti. Itulah alasan mengapa kehidupan ini dipenuhi dengan KETIDAKPASTIAN. Untuk hal-hal yang pasti tersebut tidak mungkin dapat dijabarkan satu per satu. Namun akan kita ambil salah satu contoh, Allah memberikan sebuah kepastian dalam firmannya:

Berdoalah kepada ku niscaya aku kabulkan”, begitulah firman Allah memberikan kepastian kepada manusia bahwa doa-doanya dikabulkan oleh Allah. Firman tersebut memberikan kebutuhan paling mendasar manusia yaitu KEPASTIAN. Inilah yang harus kita kejar. Kepastian yang telah diberikan Allah sesuai dengan Sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW tentunya.

2. Ikhfa (samar-samar) yang hurufnya ada banyak. Jika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf seperti ta'(ت), tha’ (ث), jim (ج), dal (د), dzal (ذ), zai (ز), sin (س), syin (ش), sod (ص), dhod (ض), tho (ط), zho (ظ), fa’ (), qof (ق), dan kaf (ك).maka kita akan membacanya dengan samar-samar.

Ikhfa menandakan bahwa kehidupan ini dipenuhi dengan kesamar-samaran atau ketidakpastian (abu-abu). Contoh terdekatnya adalah HATI, karena kita tidak bisa menebak dengan pasti isi dari hati seseorang #eaabaper. Jangankan hati orang lain, bahkan hati kita sendiri terkadang dipenuhi dengan ketidakjelasan. Untuk menghadapinya bagaimana?

Coba buka surah Al Baqarah ayat 152, Ibrahim ayat 7, dan Al Jumuah ayat 10. Yuk ayuk buka, sekalian dibaca biar dapat pahala. Intinya, caranya adalah INGAT ALLAH, BERSYUKUR, DAN BERIKHTIAR.
3. Idgham (memasukkan) yang hurufnya ada sedikit (6), yang dibagi lagi menjadi 2 yaitu Idgham Bighunnah (Jika nun mati atau tanwin bertemu huruf huruf seperti: mim (م), nun (ن) wau (و), dan ya’ (ي), maka ia harus dibaca dengan dengung) dan Idgham Bilaghunnah (Jika nun mati atau tanwin bertemu huruf-huruf seperti ra’ (ر) dan lam (ل), maka ia harus dibaca tanpa dengung.)

Idgham yang memiliki arti memasukkan / membuat sesuatu menjadi masuk ke dalamnya, menandakan bahwa dalam perjalanan kehidupan, akan ada yang mempengaruhi kita sehingga kita akan masuk ke jalannya. Ini merupakan cerminan dari lingkungan tempat tinggal kita. Lalu apakah bedanya Bighunnah dengan Bilaghunnah? Sederhana saja, hanya masalah seberapa sadarnya kita. Bighunnah artinya perubahan karena lingkungan yang kita sadari. Bilaghunnah adalah perubahan yang tidak kita sadari.

Tugas kita bagaimana? Cek lagi Al Qur’annya surah Ali Imron aya 159. Intinya, kita disuruh untuk SELALU BERBUAT BAIK dan juga jangan lupa FILTER PERGAULANNYA.

4. Iqlab yang hurufnya ada 1, ba’ (ب). Ketika nun mati atau tanwin bertemu huruf tersebut, maka dibaca menjadi “Mim” seolah bertemu dengan huruf mim.

Iqlab menandakan bahwa dalam kehidupan, akan ada yang mempengaruhi kita dan membuat kita memilih jalan yang baru. Bedanya dengan Idgham? Hanya soal jalan yang dipilih. Jika idgham mengarahkan kita untuk mengikuti jalannya, maka iqlab menuntun kita untuk membuat jalan baru. Positifnya, ini merupakan bentuk inovasi dan perluasan pemikiran.

Cara mengatasinya? Sama dengan nomor 3 Insya Allah.

Semoga bermanfaat

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulillah Terima kasih ilmunya Pal Farid

08 Feb
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali